Kamu pasti pernah dengar soal aturan keuangan klasik: 50/30/20. Di mana 50% dari penghasilan digunakan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi. Rumus ini sudah populer bertahun-tahun dan dianggap “sakti” dalam mengatur keuangan pribadi. Tapi, di tengah gaya hidup yang terus berubah dan kebutuhan yang makin kompleks, masih relevankah aturan ini?

Jawabannya: tergantung. Kalau kamu merasa aturan 50/30/20 susah diterapkan, mungkin kamu cuma butuh versi baru yang lebih sat-set alias fleksibel dengan realitas hidup masa kini.

  1. Realita hidup nggak sesederhana angka 50/30/20
    Buat sebagian orang, terutama yang tinggal di kota besar, 50% untuk kebutuhan pokok aja kadang nggak cukup. Biaya sewa, transportasi, dan makan bisa memakan lebih dari separuh gaji. Jadi, kalau kamu nggak bisa menabung 20% setiap bulan, bukan berarti kamu gagal — kamu hanya perlu menyesuaikan porsi berdasarkan prioritas dan kondisi saat ini.

Sebagai contoh, kamu bisa mulai dengan formula 60/20/20 (60% kebutuhan, 20% keinginan, 20% tabungan). Atau kalau kamu masih punya cicilan, coba 70/10/20. Yang penting bukan persentasenya, tapi konsistensinya.

  1. Gunakan konsep “tabung dulu, belanja kemudian”
    Banyak orang menabung dari sisa pengeluaran, padahal seharusnya sebaliknya. Begitu gajimu masuk, langsung sisihkan minimal 10% ke rekening tabungan terpisah. Jangan tunggu sisa — karena jujur aja, jarang banget ada “sisa”.

Kamu bisa pakai fitur auto-debit dari aplikasi perbankan digital untuk bantu hal ini. Jadi begitu gaji masuk, dana langsung dialihkan otomatis ke rekening tabungan tanpa perlu mikir dua kali. Simpel, tapi efeknya besar.

  1. Fokus ke tujuan jangka pendek dan panjang secara seimbang
    Salah satu alasan banyak orang gagal menabung adalah karena tujuannya terlalu jauh. Misalnya, “buat beli rumah 10 tahun lagi.” Akhirnya, semangatnya cepat hilang. Coba bagi dua tujuanmu: jangka pendek (liburan, dana darurat, beli gadget) dan jangka panjang (rumah, pensiun, pendidikan anak). Dengan cara ini, kamu bisa menikmati hasil menabung tanpa harus menunggu terlalu lama.
  2. Gunakan metode “budget harian” biar nggak over spending
    Daripada cuma bikin target bulanan, coba bagi uangmu ke target harian. Misalnya, Rp100 ribu per hari untuk semua kebutuhan harian. Dengan begitu, kamu bisa lebih mudah mengontrol pengeluaran karena tahu batas harianmu. Kalau hari ini nggak terpakai penuh, sisa uangnya bisa langsung kamu transfer ke rekening tabungan.
  3. Coba formula baru: “40/30/20/10”
    Ini versi upgrade dari aturan lama.
  • 40% kebutuhan hidup
  • 30% tabungan dan investasi
  • 20% gaya hidup atau hiburan
  • 10% untuk sosial, donasi, atau hadiah kecil untuk diri sendiri

Formula ini lebih manusiawi karena tetap memberi ruang untuk menikmati hidup, sambil memastikan kamu tetap punya cadangan keuangan.

  1. Gunakan sistem tabungan digital biar nggak ribet
    Kunci dari menabung di era digital adalah efisiensi. Kamu nggak perlu datang ke cabang, isi formulir, atau antre panjang. Sekarang, semuanya bisa dilakukan dari ponsel. Bahkan, kamu bisa buka rekening baru hanya dalam hitungan menit.

Pada akhirnya, aturan terbaik dalam mengatur keuangan bukanlah angka tertentu, tapi sistem yang paling cocok dengan gaya hidupmu. Selama kamu bisa konsisten menabung, nggak masalah apakah itu 10%, 15%, atau 30% dari gaji. Yang penting, uangmu tumbuh dan tidak habis begitu saja.

Kalau kamu ingin mulai menabung dengan cara yang praktis dan fleksibel, kamu bisa coba tabungan online dari Bank Sinarmas. Proses syarat buka rekening Bank Sinarmas kini jauh lebih mudah karena bisa dilakukan 100% secara digital melalui aplikasi Simas Digi. Tanpa setoran awal, tanpa biaya admin, dan semuanya bisa diakses kapan saja. Cara menabung yang benar bukan lagi soal rumus, tapi tentang memilih platform yang membuatmu bisa #SatSetAturUang tanpa repot.